Setiap
ramadan tiba, umat muslim bersemangat menyambutnya penuh suka cita. Termasuk dengan
meningkatkan amalan ibadah, diantaranya puasa, salat tarawih, sedekah, dan lainnya.
Di sisi lain, ada sebagian orang yang justru merasa insecure atau minder dengan
amalan puasanya. Perasaan ini bisa muncul dari berbagai faktor, seperti merasa
kurang khusyuk, tidak bisa beribadah sebanyak orang lain, atau khawatir amalan
yang dilakukan tidak diterima oleh Allah.www.adzka.my.id
Sebuah
pertanyaan sederhana muncul begini mengapa
rasa insecure bisa muncul? Di era media sosial, mudah sekali melihat orang lain
yang terlihat sangat rajin beribadah, berbagi kisah spiritual yang menyentuh,
atau bahkan menampilkan pencapaian ibadah mereka. Hal ini kadang membuat
seseorang merasa bahwa dirinya kurang berusaha atau tertinggal dalam ibadah
dibandingkan orang lain.
Padahal,
setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang unik. Apa yang tampak di media
sosial belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya. Tidak jarang orang lebih
menampilkan sisi terbaik dari ibadahnya, sementara pergulatan batin dan
tantangan yang mereka hadapi tidak selalu nampak. Menjadikan orang lain sebagai inspirasi boleh
saja, tetapi bukan untuk membuat diri merasa rendah. Sebaliknya, lihat sebagai
contoh bahwa selalu ada ruang untuk berkembang dan menjadi lebih baik.
Kejadian
tersebut membuat kita terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain,
sehingga bisa menjadi jebakan yang membuat kita lupa akan tujuan utama
beribadah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Hal yang lain dilakukan ialah jika
melihat postingan ibadah orang lain malah membuat kita merasa minder, lebih
baik membatasi penggunaan media sosial selama Ramadan, dan lebih fokus pada
peningkatan ibadah secara pribadi.
Selain
itu, masih ada pemahaman yang kurang tentang keikhlasan. Beberapa orang terlalu
fokus pada kuantitas ibadah dibandingkan kualitas dan keikhlasan. Mereka merasa
insecure karena ibadahnya tidak sebanyak orang lain, padahal dalam Islam,
amalan yang dilakukan dengan ikhlas lebih utama daripada sekadar banyaknya
jumlah ibadah.
Keikhlasan
adalah salah satu kunci diterimanya ibadah oleh Allah. Dalam hadis disebutkan
bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Artinya, sekecil apa pun ibadah yang
dilakukan dengan niat yang tulus akan memiliki nilai besar di sisi Allah. Makna
lainnya, lebih baik beribadah sedikit tetapi dilakukan dengan keikhlasan
daripada banyak, tetapi hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Berikutnya
ada anggapan klasik bahwa orang yang mempunyai masa lalu kurang baik, maka
amalan apapun tidak akan berbuah hasilnya. Padahal, bila ada individu yang
memiliki masa lalu kurang baik, dalam hal ibadah atau pernah lalai menjalankan
kewajiban agama. Allah adalah Maha Pengampun. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
Katakanlah,
"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat
ini menjadi pengingat bahwa siapa pun yang ingin bertaubat dan memperbaiki diri
akan selalu memiliki kesempatan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari
Allah. Jangan takut bahwa amalan kita tidak diterima. Allah Maha Pengampun dan
Maha Mengetahui setiap niat hamba-Nya. Jika kita berusaha semaksimal mungkin,
yakinlah bahwa Allah akan memberikan balasan yang setimpal.
Lantas
kita juga sebagai makhluk hamba ini, jangan langsung menuntut diri untuk
menjadi sempurna dalam beribadah. Lakukan peningkatan secara bertahap, mulai
dari yang paling mudah dan bisa dipertahankan. Misalnya, jika sebelumnya sulit
membaca Al-Qur’an setiap hari, mulailah dengan satu halaman per hari. Bila
masih sulit menahan emosi saat berpuasa, cobalah berlatih dengan lebih banyak
berzikir, dan merenungkan makna ibadah puasa itu sendiri. Wallahu ‘alam.
ditulis oleh Muhamad Nasir Pariusamahu, M.Pd
*Sekjen
PGM Indonesia Maluku
*Kabid
III Asosiasi Gerakan Literasi Pendidik Madrasah Pusat
Komentar
Posting Komentar